Jumat, 08 November 2013

Makalah Filsafat Pendidikan

 Makalah Filsafat Pendidikan

Dosen              : Drs. H. Agussalim, M.Si.
Mata Kuliah    : Filsafat Pendidikan

Pengertian Pendidikan Dan Filsafat Pendidikan 
Serta Peranannya



Logo STKIP SIDRAP.jpg



Oleh :

Kelompok II
Ketua              : Hasni
Sekretaris                : Arjeni
Anggota          : Lilis Mayana
                          Rahmadani
                          Faisal
                          Afrisal
                          Muh. Saleh
                          Nasrullah



STKIP MUHAMMADIYAH SIDENRENG RAPPANG
TAHUN AKADEMIK 2013/2014


 KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT  yang telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari makalah ini belum dapat dikatakan sempurna karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita semua habibana wanabiana Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya.
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan, dalam makalah ini penulis membahas mengenai “Pengertian Pendidikan dan Filsafat Pendidikan Serta Peranannya”, dengan makalah ini penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
1.      Kepada Dosen Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Bapak Drs. H. Agussalim, M.Si. yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
  1. Kepada orang tua kami yang telah memberikan motivasi dan dukungan kepada kami baik secara moral maupun material.
  2. Kepada teman-teman yang telah memberi dorongan dan membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih atas segala perhatiannya.

Lt. Salo,       Oktober  2013


Penyusun
 DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................   i
Daftar Isi.............................................................................................................   ii
BAB I        PENDAHULUAN..........................................................................  
A.      Latar Belakang..........................................................................  
B.       Rumusan Masalah.....................................................................  
C.       Tujuan Penulisan.......................................................................  
BAB II       PEMBAHASAN.............................................................................  
A.      Pengertian Pendidikan..............................................................  
B.       Seluk Beluk Filsafat Pendidikan...............................................  
C.       Pengertian Silsafat Pendidikan.................................................  
D.      Peranan Filsafat Pendidikan.....................................................  
BAB III     PENUTUP.......................................................................................  
A.      Kesimpulan...............................................................................  
B.       Saran.........................................................................................  
Daftar Pustaka....................................................................................................  
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Filsafat dimulai dari rasa ingin tahu dan dari rasa ragu-ragu. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Karakteristik berfikir filsafat adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas hanya mengenal ilmu dari segi pandang ilmu itu sendiri, tapi ingin melihat hakikat ilmu dalam konsentrasi pengetahuan yang lainnya.
Dalam kehidupan manusia filsafat tidak terpisahkan, karena sejarahnya yang panjang dan juga karena ajaran filsafat malahan menjangkau masa depan umat manusia dalam bentuk-bentuk ideologi. Pembangunan dan pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa pun bersumber pada inti sari ajaran filsafat. Oleh karena itu filsafat telah menguasai kehidupan umat manusia, manjadi norma negara, menjadi filsafat hidup suatu bangsa.
Filsafat adalah suatu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas (komprehensif). Filsafat menjangkau semua persoalan dalam daya kemampuan pikir manusia. Filsafat mencoba mengerti, menganalisis, menilai dan menyimpulkan semua persoalan-persoalan dalam jangkauan rasio manusia, secara kritis, rasional dan mendalam. Kesimpulan-kesimpulan filsafat manusia yang selalu cenderung memiliki watak subjektivitas. Faktor inilah yang melahirkan aliran-aliran filsafat dan perbedaan-perbedaan dalam filsafat.
Dapat disimpulkan filsafat adalah ilmu pengetahuan hasil pemikiran manusia dari seperangkat masalah mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga diperoleh budi pekerti. Adapun tujuan berfilsafat adalah untuk mencari kebenaran sesuatu baik dalam logika (kebenaran berfikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian). Dari periode ke periode, filsafat mampu terus tumbuh dan melewati batasan-batasan ruang dan waktu yang rumit dan sulit dijelaskan. Filsafat selalu eksis sehingga dalam situasinya yang terburuk dan tergelap, ia selalu mampu hadir menjadi sesuatu yang berlimpah serta mengagumkan siapa pun yang memahaminya.
Begitulah dari waktu ke waktu, filsafat terus menerus berkembang sesuai dengan perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada dunia manusia, termaksud salah satunya sesuatu yang begitu pragmatis bernama pendidikan. Sesuatu yang jika dilacak pun sesungguhnya memiliki akar gen yang sama dengan berbagai bidang lainnya, lahir dan bermula dari filsafat. Oleh karena itu, relevan jika pendidikan tidak lain adalah spekulasi filsafat akan hidup manusia. Tepatnya, saat filsafat menemukan satu pandangan bahwa hidup manusia harus baik, bermakna, dan makin berkualitas.
Pada periode-periode awal perkembangannya, pendidikan tidak hidup secara terpisah dari filsafat, pendidikan justru menjadi bagian yang masuk dalam filsafat karena pendidikan adalah bidang yang lahir dalam ruang etika atau filsafat nilai. Oleh karena itu, apa yang hendak dicapai oleh pendidikan selalu menjadi hal yang tak berbeda dengan apa yang hendak dicapai oleh etika, yaitu berupaya membangun hidup manusia baik dalam makna abstrak, yaitu dalam ruang kesadaran ataupun makna empiris atau dalam ruang-ruang yang bersifat mekanis.
Dalam kepentingan itulah, pendidikan kemudian lahir sebagai proses pengajaran atau transformasi nilai-nilai keteladanan hidup di satu sisi dan peningkatan nilai-nilai keteladana hidup di sisi yang lain. Makna pendidikan di dalam filsafat tidak pernah menjadi sesuatu yang lain selain sebuah upaya untuk membangun tata hidup dan berkehidupan manusia yang ada. Makna fungsi ini memiliki kemiripan yang hampir sama dengan makna fungsi ilmu dan pengetahuan bagi hidup manusia, yaitu membangun hidup manusia semakin baik dan ideal di satu sisi, dan mampu menjaga kualitas-kualitas hidup yang telah dicapai di sisi yang lain.
Dari itu, secara genealogi-histori, pendidikan pada dasarnya bukanlah sesuatu hal yang baru sehingga ia dapat diklaim sebagai temuan manusia modern, sebaliknya pendidikan adalah sesuatu yang sudah tua dan klasik, setua usia filsafat, karena pendidikan merupakan bagian dari filsafat. Kenyataan ini menjadi argumen mengapa di era klasik para filsuf tidak pernah melahirkan istilah filsafat pendidikan, karena ketika istilah pendidkan disebutkan maka secara otomatis mengasosiasikan makna filsafat.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang coba dikemukakan penulis dalam makalah ini adalah.
1.    Apakah pengertian Filsafat pendidikan.
2.    Bagaimanakah peranan filsafat dalam pendidikan.

C.      Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini adalah,
1.         Mendeskripsikan pengertian filsafat pendidikan.
2.         Mendeskripsikan peranan filsafat dalam pendidikan.







BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Pendidikan
Dalam kajian dan pemikiran tentang pendidikan terlebih dahulu perlu diketahui 2 istilah yang hampir sama bentuknya dan sering dipergunakan dalam dunia pendidikan, yaitu : paedagogie dan paedagoiek. Paedagogie berarti “pendidikan” sedangkan Paedagogiek artinya “ilmu pendidikan”. 1) Paedagodiek atau ilmu pendidikan ialah yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Istilah ini berasal dari kata “Paedagogia” (Yunani) yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan yang sering digunakan istilah paedagogos adalah seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ked an dari sekolah. Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, mempimpin). 2).
Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan. Atau dengan kata lain bahwa pendidikan bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yan berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan pendidikannya.
Menurut Carter V. Good tersebut bahwa pendidikan mengandung pengertian sebagai suatu :
a.         Proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakatnya;
b.         Proses social di mana sesorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (misalnya sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan social dan mengembangkan pribadinya.

B.            Seluk beluk Filsafat Pendidikan
Pada mulanya filsafat pendidikan adalah cara pendekatan terhadap masalah pendidikan yang biasa dilakukan di Negara-negara Anglo Saxon. Di Amerika Serikat misalnya, filsafat pendidikan dimulai dengan pengkajian terhadap beberapa aliran filsafat tertentu seperti pragtimisme, idealism, realisme, eksistensialisme dan lain sebagainya yang diakhiri dengan implikasinya ke dalam aspek-aspek pendidkan.
Uraian tadi sekalipun paedagogiek sebagai keseluruhan merupakan ilmu praktis namun sudah jelas bahwa aspek-aspeknya mengenai teori yang ditujukan kepada tindakan. Meskipun Gunning (seorang Guru Besar Pendidikan) pernah membedakan istilah “Paedagogiek” (ilmu pendidikan) dengan “paedagogie” (pendidikan), tetapi menurut M.J. Langeveld tidak ada gunanya membubuhkankata praktis pada istilah terakhir seperti yang dimasudkan Prof. Gunning tersebut, karena pengertian mendidik selalu berarti bertindak. Dan atas dasar pengertian ini maka di negeri Belanda tidak dikenal istilah filsafat pendidikan, karena pengertiannya sudah terkandung dalam “pedagogiek” sebagaimana pendapat Langeveld tersebut tadi.
Adapun lahirnya konsep dan rumusan filsafat pendidikan yang akan dibahas lebih lanjut adalah didasarkan atas dasar beberapa pertimbangan yang merupakan pokok-pokok pikiran, sebagai berikut :
1.        Sebagai ilmu pengetahuan normative, ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia.
2.        Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik maupun guru ialah menanamkan system-sistem norma tingkah laku perbuatan manusia yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat.
3.        Bahwa agama, filsafat dengan segala cabangnya serta istilah yang ekuivalen lainnya, menentukan dasar-dasar dan tujuan hidup yang akan menentukan dasar dan tujuan pendidikan manusia, selanjutnya akan menentukan tingkah laku perbuatan manusia dalam kehidupan dan penghidupannya.
4.        Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan secara normatif dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakikat dan sifat hakikat manusia, segi-segi pendidikan, isi moral pendidikan, system pendidikan yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan metodologi pengajarannya; pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat.

C.       Pengertian Filsafat Pendidikan
Apabila ditanyakan, apakah filsafat pendidikan itu? Maka untuk menjawab pertanyaan ini, digunakan 2 (dua) pendekatan (hampiran) yaitu;
1.        Menggunakan pendekatan (hampiran) tradisonal.
2.        Menggunakan pendekatan (hampiran) yang bersifat kritis
Pada pendekatan pertama digunakan untuk memecahkan problem hidup dan kehidupan manusia sepanjang perkembangannya, sedangkan pada pendekatan yang kedua, digunakan untuk memecahkan problematika pendidikan masa kini.
1.        Filsafat pendidikan bermakna sebagai filsafat tradisional
Filsafat pendidikan dalam artian ini dan dalam bentuknya yang murni telah berkembang dengan menghasilkan berbagai alternative jawaban terhadap berbagai macam pertanyaan filosofis yang diajukan dalam problema hidup dan kehidupan manusia dalam bidang pendidikan yang jawabannya telah melekat dalam masing-masing jenis, system dan aliran-aliran filsafat tersebut.
Berbeda dengan filsafat kritis, pertanyaan-pertanyaan yang disusun dapat dilepaskan dari ikatan waktu (historis) dan usaha mencari jawabannya dapat dilakukan dengan memobilisasikan berbagai aliran yang ada. Sedangkan jawaban yang diperlukan dapat dicari dimasing-masing aliran itu sendiri diambilkan dari jenis masalah yang bersangkutan dengan aliran yang bersangkutan.
2.        Filsafat Pendidikan dengan Menggunakan Pendekatan yang Bersifat Kritis
Dalam pendekatan ini pemikiran logis kritis mendapatkan tempat utama. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat disusun dan tidak terikat periodisasi waktu serta dapat menerapkan analisis yang dapat menjangkau waktu kini maupun masa yang akan datang. Demikian pula alat yang digunakan untuk menemukan jawaban secara filosofis terhdap pertanyaan filosofis, dengan 2 (dua) cara analisis dalam pendekatan filsafat yang bersifat kritis yaitu: 1) Analisa bahasa (Linguistik), dan 2) Analisa konsep.

D.       Peranan Filsafat Pendidikan
Dalam upaya untuk memajukan kehidupan suatu bangsa dan Negara sesuai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan maka di dalamnya terjadi suatu proses pendidikan atau proses belajar yang akan memberikan pengertian, pandangan dan penyusaian bagi sesorang atau siterdidik kea rah kedewasaan dan kematangan. Dengan proses ini akan membawa pengaruh terhadap perkembangan jiwa sesorang anak didik atau peserta dan atau subyek didik kearah yang lebih dinamis baik terhadap bakat atau pengalaman, moral, intelektual maupun fisik (jasmani) menuju kedewasaan dan kematangan tadi.
Kemudian untuk memahami bagaimana peranan filsafat pendidikan lebih jauh lagi maka dapat kita ketahui melalui peranan antara filsafat dan pendidikan yang tak dapat dipisahkan. Karena filsafat menetapkan ide-ide dan idealism sedangkan pendidikan adalah suatu cara yang sengaja dan terencana untuk merealisasikan ide-ide itu menjadi kenyataan dalam tindakan dan perilaku serta pembinaan kepribadian. Hal ini sebagaimana tersimpul dalam pikiran Kilpatrick yang dikemukakan dalam bukunya “Philosophy of Education” sebagai berikut:
Philosophy of education, we may add, is the study of comparative effects (1) of rival philosophies on the life process and (2) of alternative educative process on character building – both under – taken in order to find what management of education is likely to build of the most constructive character in young and old.

Dari pandangan Kilpatrick tadi dapat dipahami bahwa peranan dan fungsi filsafat pendidikan adalah menyelidiki perbandingan pengaruh-pengaruh dari :
1.      Filsafat-filsafat yang bersaing di dalam proses kehidupan.
2.      Kemungkinan proses-proses pendidikan dan pembinaan watak dan keduanya mengusahakan untuk menemukan pengelolaan pendidikan yang dikehendaki untuk membina watak yang paling konstuktif bagi golongan muda dan tua.
Adapun perbandigan pengaruh dari beberapa ide filsafat dalam pendidikan dapat diketahui melalui sejarah pendidikan, anatara lain tersimpul dalam pandangan-pandangan:
1.        Aliran Empirisme
Kata empirisme berasal dari kata empiri berarti pengalaman.Tokoh aliran ini adalah John Locke (1632-1704),seorang filosof bangsa Inggris.Menurut teorinya bahwa keperibadian di dasarkan kepada lingkungan pendidikan yang didapatnya atau perkembangan jiwa seseorang semata-mata bergantung pada pendidikan.
Menurut teori empirisme bahwa pendidik adalah dapat berbuat sekehedak hati dalam pembentukan pribadi anak didik untuk menjadi apa yang sesuai yang diinginkannya.Ahli pendidiakan mempunyai pandangan yang hampir sama yaitu Helvatus (seorang ahli filsafat Yunani )berpendapat bahwasannya manusia dilahirkan dengan jiwa dan watak yang hampir sama yaitu suci dan bersih.Pendidikan dan lingkunganlah yang membuat manusia berbeda-beda.Demikian juga seorang pemikir zaman Aufklarung bernama Claude Adrien Helvetius (1715-1771) telah merumuskan bahwa manusia itu seolah-olah berkelas-kelas.disatu pihak dididik sebagai pemburu dan dilain pihak memproleh didikan sosial dan macam-macam didikan Mereka membangkitkan kepercayaan bahwa lingkungan dan pendidikan dapat membentuk manusia kea rah mana saja yang dikehendaki pendidik.
Aliran ini termasuk aliran Progresivisme yang bersifat evolusionistis dan porcaya pada kemampuan-kemampuan manusia untuk mengadakan perubahan.
2.      Nativisme  dan Naturalisme
a.      Nativisme
Aliran ini adalah penganut dari salah satu ajaran filsafat idealisme.Tokohnya Arthur Shopenhauer (1788-1860) yang perpandangan bahwa faktor pembawaan yang bersifat kodrat dari kelahiran dan tidak mendapatkan pengarug dari alam sekitar atau pendidikan sekalipun, dan itulah yang disebut keperibadian manusia.Potensi-potensi dari faktor pembawaan yang bersifat kodrati sebagai pribadi seseorang,bukan hasil pendidikan.Tanpa potensi-potensi hereditas yang baik,tidaklah mungkin seseorang mendapatkan taraf yang dikehendaki,meskipun mendapatkan pendidikan maksimal.Mendidik menurut aliran nativisme tiada lain sebagai membiarkan anak tumbuh berdasarkan pembawaanya.Berhasil tidaknya perkembangan anak tergantung pada tinggi rendahnya dan jenis pembawaann yang dimiliki anak.Apa yang patut di hargai dari pendidikan tidaklah lebih dari sekedar memoles permukaan peradaban dan tingkah laku sosial,sedang lapis dari dalam dari keperibadian anak tidak perlu ditentukan.
Aliran ini juga disebut sebagai aliran Pesimistis,karena menerima keperibadian sebagaimana adanya dengan tidak mempercayai adanya nilai-nilai pendidikan untuk merubah keperibadian.
b.      Naturalism
Tokohnya adalah Jean Jacques Rousseau (1712-1778) seorang filosof bangsa Prancis,yang mengemukakan pendapat dalam bukunya yang berjudul “Emile” mengemukakan bahwa “semua adalah baik pada waktu dating dari tangan Sang Pencipta,tetapi semua menjadi buruk di tangan manusia”.
Aliran ini disebut juga aliran negativism,berpandangan bahwa pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik saja dengan sendirinya dan selanjutnya diserahkan kepada alam.Jadi pendidikan tidak diperlukan dan yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik kea lam agar pembawaan yang baik tadi tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan.
3.      Teori Konvergensi
Teori dan aliran konvergensi ingin mengkompromikan 2 macam aliran yang ekstrem,yaitu aliran empirisme dan aliran nativisme.Tokoh aliran ini adalah William Stern (1871-1938),seorang ahli pendidikan bangsa  Jerman,yang berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan sama pentingnya,kedua-duanya sangat berpengaruh terhadap hasil perkembangan anak didik.Hasil perkembangan dan pendidikan anak tergantung peda besar kecilnya pembawaan serta situasi lingkunganya.
Jadi jika tiap-tiap pendidik telah memahami asas-asas dan nilai filosofi serta menggunakannya dalam pendidikan,maka filsafat pendidikan menjadi norma pendidikan atau sebagai asas normative di dalam pendidikan.
Peranan dan fungsi filsafat pendidikan bagi para pendidik yang dikemukakan secara singkat oleh Brubacher tersimpul dalam :
1.      Fungsi Spekulasi
Untuk melaksanakan fungsi spekulasi maka filsaft pendidikan berusaha :
a.       Menarik kesimpulan atau merangkum dari berbagai persoalan pendidikan kedalam suatu gambaran pokok aksioma melalui proses abstrak dan generalisasi atau menurut Brubacher bahwa dalam fungsi ini “educational philosophy makes an endeavor to be sinoptik “
b.      Memahami persoalan pendidikan secara keseluruhan dan dalam hubungannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan.
2.      Fungsi Normative
Menurut Brubacher,dalam fungsi ini filsafat pendidikan adalah “diharapkan mempunyai tanggung jawab terhadap formulasi tujuan,norma atau standar untuk mengarahkan proses pendidikan.
3.      Fungsi Kritik
Filsafat pendidikan melakukan penelitian secara cermat yang didasarkan atas pemikiran-pemikiran dan praktek-pratek pendidikan,dalam hal :
a.       Menguji dasar-dasar pemikiran logis dimana kesimpulan-kesimpulan pendidikan berada didalamnya
b.      Menguji dengan teliti bahwa bahasa yang digunakan benar-benar harus terang dan jelas
c.       Memerlukan bukti-bukti yang bermacam-macam yang diterima untk menguatkan atau menyangkal ungkapam-unakpan fakta tentang pendidikan.
4.      Fungsi Teori bagi Praktek
Apa yang terdapat dalam filsafat pendidikan berupa konsep,ide,analisa dan kesimpulan-kesimpulan adalah berfungsi sebagai teori.dan bagi para pendidik merupakan dasar bagi suatu praktek dan pelaksanaan pendidikan.Dan filsafat memberikan prinsip-prinsip umum suatu praktek sehingga Nampak bahwa filsafat dan ilmu pendidikan dipandang sebagai bidang-bidang ilmu yang saling melengkapi dan keduanya selalu diperlukan oleh para pelaksana pendidikan.
Karena bahwasannya setip ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan filsafat pendidikan haris diambil dan digunakan untuk bahan memperdalam dan memperluas wawasan dalam studi filsafat pendidikan.












BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Filsafat pendidikan sebagai ilmu pada mulanya adalah cara pendekatan terhadap masalah pendidikan.Paedagogik atau ilmu pendidikan sebagai ilmu pokok dalam lapangan pendidikan yang melahirkan filsafat pendidikan,maka agar memenuhi persyaratan landasan konsep dan fungsingnya juga harus sesuai dengan jiwa dan isinya,haruslah pula berlandaskan filsafat dan berdasarkan pendidikan,artinya pendidikan dengan segala problematika yang bersifat filosofis memerlukan jawaban secara filosofis pula.

B.       SARAN
Kajian filsafat pendidikan yang penulis jelaskan di atas sesungguhnya masih sangat jauh dari kesempurnaan, mengingat peran filsafat dalam dunia pendidikan sangat luas. Dengan keterbatasan kemampuan penulis, penulis mengharapkan bagi pembaca yang ingin mengkaji lebih dalam mengenai filsafat pendidikan agar bisa menambah referensi lebih banyak untuk kesempurnaan kajian dan semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembacanya.
  

SEMOGA BERMANFAAT !!!

1 komentar: