Makalah Filsafat Pendidikan
Dosen :
Drs. H. Agussalim, M.Si.
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan


Oleh :
Kelompok II
Ketua : Hasni
Sekretaris :
Arjeni
Anggota :
Lilis Mayana
Rahmadani
Faisal
Afrisal
Muh. Saleh
Nasrullah
STKIP MUHAMMADIYAH SIDENRENG RAPPANG
TAHUN AKADEMIK 2013/2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji dan syukur penulis
panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahnya
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, namun penulis
menyadari makalah ini belum dapat dikatakan sempurna karena mungkin masih
banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan
kepada junjungan kita semua habibana wanabiana Muhammad SAW, kepada
keluarganya, kepada para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita
selaku umatnya.
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat
Pendidikan, dalam makalah ini penulis membahas mengenai “Pengertian
Pendidikan dan Filsafat Pendidikan Serta Peranannya”, dengan makalah ini
penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
makalah ini.
1. Kepada Dosen Mata Kuliah Filsafat
Pendidikan Bapak Drs. H. Agussalim, M.Si. yang telah membimbing dan mengarahkan
penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
- Kepada
orang tua kami yang telah memberikan motivasi dan dukungan kepada kami
baik secara moral maupun material.
- Kepada
teman-teman yang telah memberi dorongan dan membantu dalam menyelesaikan
makalah ini.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih atas segala
perhatiannya.
Lt. Salo,
Oktober 2013
Penyusun
Kata Pengantar.................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................
A.
Latar Belakang..........................................................................
B.
Rumusan Masalah.....................................................................
C.
Tujuan Penulisan.......................................................................
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................
A.
Pengertian
Pendidikan..............................................................
B.
Seluk Beluk
Filsafat Pendidikan...............................................
C.
Pengertian
Silsafat Pendidikan.................................................
D.
Peranan Filsafat
Pendidikan.....................................................
BAB III PENUTUP.......................................................................................
A.
Kesimpulan...............................................................................
B.
Saran.........................................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Filsafat dimulai dari rasa ingin
tahu dan dari rasa ragu-ragu. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang
telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Karakteristik berfikir filsafat
adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas hanya mengenal ilmu dari
segi pandang ilmu itu sendiri, tapi ingin melihat hakikat ilmu dalam
konsentrasi pengetahuan yang lainnya.
Dalam kehidupan manusia filsafat tidak terpisahkan, karena sejarahnya yang panjang dan juga karena ajaran filsafat malahan menjangkau masa depan umat manusia dalam bentuk-bentuk ideologi. Pembangunan dan pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa pun bersumber pada inti sari ajaran filsafat. Oleh karena itu filsafat telah menguasai kehidupan umat manusia, manjadi norma negara, menjadi filsafat hidup suatu bangsa.
Dalam kehidupan manusia filsafat tidak terpisahkan, karena sejarahnya yang panjang dan juga karena ajaran filsafat malahan menjangkau masa depan umat manusia dalam bentuk-bentuk ideologi. Pembangunan dan pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa pun bersumber pada inti sari ajaran filsafat. Oleh karena itu filsafat telah menguasai kehidupan umat manusia, manjadi norma negara, menjadi filsafat hidup suatu bangsa.
Filsafat adalah suatu lapangan
pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas (komprehensif). Filsafat
menjangkau semua persoalan dalam daya kemampuan pikir manusia. Filsafat mencoba
mengerti, menganalisis, menilai dan menyimpulkan semua persoalan-persoalan
dalam jangkauan rasio manusia, secara kritis, rasional dan mendalam.
Kesimpulan-kesimpulan filsafat manusia yang selalu cenderung memiliki watak
subjektivitas. Faktor inilah yang melahirkan aliran-aliran filsafat dan perbedaan-perbedaan
dalam filsafat.
Dapat disimpulkan filsafat adalah
ilmu pengetahuan hasil pemikiran manusia dari seperangkat masalah mengenai
ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga diperoleh budi pekerti. Adapun
tujuan berfilsafat adalah untuk mencari kebenaran sesuatu baik dalam logika
(kebenaran berfikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat
keaslian). Dari periode ke periode, filsafat mampu terus tumbuh dan melewati
batasan-batasan ruang dan waktu yang rumit dan sulit dijelaskan. Filsafat
selalu eksis sehingga dalam situasinya yang terburuk dan tergelap, ia selalu
mampu hadir menjadi sesuatu yang berlimpah serta mengagumkan siapa pun yang
memahaminya.
Begitulah dari waktu ke waktu,
filsafat terus menerus berkembang sesuai dengan perkembangan-perkembangan dan
perubahan-perubahan yang terjadi pada dunia manusia, termaksud salah satunya
sesuatu yang begitu pragmatis bernama pendidikan. Sesuatu yang jika dilacak pun
sesungguhnya memiliki akar gen yang sama dengan berbagai bidang lainnya, lahir
dan bermula dari filsafat. Oleh karena itu, relevan jika pendidikan tidak lain
adalah spekulasi filsafat akan hidup manusia. Tepatnya, saat filsafat menemukan
satu pandangan bahwa hidup manusia harus baik, bermakna, dan makin berkualitas.
Pada periode-periode awal
perkembangannya, pendidikan tidak hidup secara terpisah dari filsafat,
pendidikan justru menjadi bagian yang masuk dalam filsafat karena pendidikan
adalah bidang yang lahir dalam ruang etika atau filsafat nilai. Oleh karena
itu, apa yang hendak dicapai oleh pendidikan selalu menjadi hal yang tak
berbeda dengan apa yang hendak dicapai oleh etika, yaitu berupaya membangun
hidup manusia baik dalam makna abstrak, yaitu dalam ruang kesadaran ataupun
makna empiris atau dalam ruang-ruang yang bersifat mekanis.
Dalam kepentingan itulah, pendidikan
kemudian lahir sebagai proses pengajaran atau transformasi nilai-nilai
keteladanan hidup di satu sisi dan peningkatan nilai-nilai keteladana hidup di
sisi yang lain. Makna pendidikan di dalam filsafat tidak pernah menjadi sesuatu
yang lain selain sebuah upaya untuk membangun tata hidup dan berkehidupan
manusia yang ada. Makna fungsi ini memiliki kemiripan yang hampir sama dengan
makna fungsi ilmu dan pengetahuan bagi hidup manusia, yaitu membangun hidup
manusia semakin baik dan ideal di satu sisi, dan mampu menjaga
kualitas-kualitas hidup yang telah dicapai di sisi yang lain.
Dari itu, secara genealogi-histori,
pendidikan pada dasarnya bukanlah sesuatu hal yang baru sehingga ia dapat
diklaim sebagai temuan manusia modern, sebaliknya pendidikan adalah sesuatu
yang sudah tua dan klasik, setua usia filsafat, karena pendidikan merupakan
bagian dari filsafat. Kenyataan ini menjadi argumen mengapa di era klasik para
filsuf tidak pernah melahirkan istilah filsafat pendidikan, karena ketika
istilah pendidkan disebutkan maka secara otomatis mengasosiasikan makna
filsafat.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
rumusan masalah yang coba dikemukakan penulis dalam makalah ini adalah.
1.
Apakah
pengertian Filsafat pendidikan.
2.
Bagaimanakah
peranan filsafat dalam pendidikan.
C.
Tujuan
Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan
makalah ini adalah,
1.
Mendeskripsikan pengertian filsafat
pendidikan.
2.
Mendeskripsikan peranan filsafat dalam
pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan
Dalam kajian dan
pemikiran tentang pendidikan terlebih dahulu perlu diketahui 2 istilah yang
hampir sama bentuknya dan sering dipergunakan dalam dunia pendidikan, yaitu :
paedagogie dan paedagoiek. Paedagogie berarti “pendidikan” sedangkan
Paedagogiek artinya “ilmu pendidikan”. 1) Paedagodiek atau ilmu pendidikan
ialah yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik.
Istilah ini berasal dari kata “Paedagogia” (Yunani) yang berarti pergaulan
dengan anak-anak. Sedangkan yang sering digunakan istilah paedagogos adalah
seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan
menjemput anak-anak ked an dari sekolah. Paedagogos berasal dari kata paedos
(anak) dan agoge (saya membimbing, mempimpin). 2).
Dalam pengertian
yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk
menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun
rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma
tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan
dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan. Atau
dengan kata lain bahwa pendidikan bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai
suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan yang dikembangkan atas dasar
pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yan berfungsi
sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan
pendidikannya.
Menurut Carter
V. Good tersebut bahwa pendidikan mengandung pengertian sebagai suatu :
a.
Proses
perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku
dalam masyarakatnya;
b.
Proses social di
mana sesorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (misalnya
sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan social dan mengembangkan
pribadinya.
B.
Seluk beluk Filsafat Pendidikan
Pada mulanya
filsafat pendidikan adalah cara pendekatan terhadap masalah pendidikan yang
biasa dilakukan di Negara-negara Anglo Saxon. Di Amerika Serikat misalnya,
filsafat pendidikan dimulai dengan pengkajian terhadap beberapa aliran filsafat
tertentu seperti pragtimisme, idealism, realisme, eksistensialisme dan lain
sebagainya yang diakhiri dengan implikasinya ke dalam aspek-aspek pendidkan.
Uraian tadi
sekalipun paedagogiek sebagai keseluruhan merupakan ilmu praktis namun sudah
jelas bahwa aspek-aspeknya mengenai teori yang ditujukan kepada tindakan.
Meskipun Gunning (seorang Guru Besar Pendidikan) pernah membedakan istilah
“Paedagogiek” (ilmu pendidikan) dengan “paedagogie” (pendidikan), tetapi menurut
M.J. Langeveld tidak ada gunanya membubuhkankata praktis pada istilah terakhir
seperti yang dimasudkan Prof. Gunning tersebut, karena pengertian mendidik
selalu berarti bertindak. Dan atas dasar pengertian ini maka di negeri Belanda
tidak dikenal istilah filsafat pendidikan, karena pengertiannya sudah
terkandung dalam “pedagogiek” sebagaimana pendapat Langeveld tersebut tadi.
Adapun lahirnya
konsep dan rumusan filsafat pendidikan yang akan dibahas lebih lanjut adalah
didasarkan atas dasar beberapa pertimbangan yang merupakan pokok-pokok pikiran,
sebagai berikut :
1.
Sebagai ilmu
pengetahuan normative, ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma
atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia.
2.
Sebagai ilmu
pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik maupun guru ialah
menanamkan system-sistem norma tingkah laku perbuatan manusia yang didasarkan
kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik
dalam suatu masyarakat.
3.
Bahwa agama,
filsafat dengan segala cabangnya serta istilah yang ekuivalen lainnya,
menentukan dasar-dasar dan tujuan hidup yang akan menentukan dasar dan tujuan
pendidikan manusia, selanjutnya akan menentukan tingkah laku perbuatan manusia
dalam kehidupan dan penghidupannya.
4.
Filsafat
pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan secara normatif
dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakikat dan sifat hakikat manusia, segi-segi
pendidikan, isi moral pendidikan, system pendidikan yang meliputi politik
pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan metodologi pengajarannya; pola-pola
akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat.
C.
Pengertian Filsafat Pendidikan
Apabila
ditanyakan, apakah filsafat pendidikan itu? Maka untuk menjawab pertanyaan ini,
digunakan 2 (dua) pendekatan (hampiran) yaitu;
1.
Menggunakan
pendekatan (hampiran) tradisonal.
2.
Menggunakan
pendekatan (hampiran) yang bersifat kritis
Pada pendekatan
pertama digunakan untuk memecahkan problem hidup dan kehidupan manusia
sepanjang perkembangannya, sedangkan pada pendekatan yang kedua, digunakan
untuk memecahkan problematika pendidikan masa kini.
1.
Filsafat pendidikan bermakna sebagai filsafat
tradisional
Filsafat pendidikan
dalam artian ini dan dalam bentuknya yang murni telah berkembang dengan
menghasilkan berbagai alternative jawaban terhadap berbagai macam pertanyaan
filosofis yang diajukan dalam problema hidup dan kehidupan manusia dalam bidang
pendidikan yang jawabannya telah melekat dalam masing-masing jenis, system dan aliran-aliran
filsafat tersebut.
Berbeda dengan filsafat
kritis, pertanyaan-pertanyaan yang disusun dapat dilepaskan dari ikatan waktu
(historis) dan usaha mencari jawabannya dapat dilakukan dengan memobilisasikan
berbagai aliran yang ada. Sedangkan jawaban yang diperlukan dapat dicari
dimasing-masing aliran itu sendiri diambilkan dari jenis masalah yang
bersangkutan dengan aliran yang bersangkutan.
2.
Filsafat Pendidikan dengan Menggunakan Pendekatan
yang Bersifat Kritis
Dalam pendekatan ini
pemikiran logis kritis mendapatkan tempat utama. Pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan dapat disusun dan tidak terikat periodisasi waktu serta dapat
menerapkan analisis yang dapat menjangkau waktu kini maupun masa yang akan
datang. Demikian pula alat yang digunakan untuk menemukan jawaban secara
filosofis terhdap pertanyaan filosofis, dengan 2 (dua) cara analisis dalam
pendekatan filsafat yang bersifat kritis yaitu: 1) Analisa bahasa (Linguistik),
dan 2) Analisa konsep.
D.
Peranan Filsafat Pendidikan
Dalam upaya
untuk memajukan kehidupan suatu bangsa dan Negara sesuai tujuan pendidikan yang
telah ditetapkan maka di dalamnya terjadi suatu proses pendidikan atau proses
belajar yang akan memberikan pengertian, pandangan dan penyusaian bagi sesorang
atau siterdidik kea rah kedewasaan dan kematangan. Dengan proses ini akan
membawa pengaruh terhadap perkembangan jiwa sesorang anak didik atau peserta
dan atau subyek didik kearah yang lebih dinamis baik terhadap bakat atau
pengalaman, moral, intelektual maupun fisik (jasmani) menuju kedewasaan dan
kematangan tadi.
Kemudian untuk
memahami bagaimana peranan filsafat pendidikan lebih jauh lagi maka dapat kita
ketahui melalui peranan antara filsafat dan pendidikan yang tak dapat
dipisahkan. Karena filsafat menetapkan ide-ide dan idealism sedangkan
pendidikan adalah suatu cara yang sengaja dan terencana untuk merealisasikan
ide-ide itu menjadi kenyataan dalam tindakan dan perilaku serta pembinaan
kepribadian. Hal ini sebagaimana tersimpul dalam pikiran Kilpatrick yang
dikemukakan dalam bukunya “Philosophy of
Education” sebagai berikut:
Philosophy of education, we may
add, is the study of comparative effects (1) of rival philosophies on the life
process and (2) of alternative educative process on character building – both
under – taken in order to find what management of education is likely to build
of the most constructive character in young and old.
Dari pandangan
Kilpatrick tadi dapat dipahami bahwa peranan dan fungsi filsafat pendidikan
adalah menyelidiki perbandingan pengaruh-pengaruh dari :
1.
Filsafat-filsafat
yang bersaing di dalam proses kehidupan.
2.
Kemungkinan
proses-proses pendidikan dan pembinaan watak dan keduanya mengusahakan untuk
menemukan pengelolaan pendidikan yang dikehendaki untuk membina watak yang
paling konstuktif bagi golongan muda dan tua.
Adapun
perbandigan pengaruh dari beberapa ide filsafat dalam pendidikan dapat
diketahui melalui sejarah pendidikan, anatara lain tersimpul dalam
pandangan-pandangan:
1.
Aliran Empirisme
Kata empirisme
berasal dari kata empiri berarti pengalaman.Tokoh aliran ini adalah John Locke
(1632-1704),seorang filosof bangsa Inggris.Menurut teorinya bahwa keperibadian
di dasarkan kepada lingkungan pendidikan yang didapatnya atau perkembangan jiwa
seseorang semata-mata bergantung pada pendidikan.
Menurut teori
empirisme bahwa pendidik adalah dapat berbuat sekehedak hati dalam pembentukan
pribadi anak didik untuk menjadi apa yang sesuai yang diinginkannya.Ahli
pendidiakan mempunyai pandangan yang hampir sama yaitu Helvatus (seorang ahli
filsafat Yunani )berpendapat bahwasannya manusia dilahirkan dengan jiwa dan
watak yang hampir sama yaitu suci dan bersih.Pendidikan dan lingkunganlah yang
membuat manusia berbeda-beda.Demikian juga seorang pemikir zaman Aufklarung
bernama Claude Adrien Helvetius (1715-1771) telah merumuskan bahwa manusia itu
seolah-olah berkelas-kelas.disatu pihak dididik sebagai pemburu dan dilain
pihak memproleh didikan sosial dan macam-macam didikan Mereka membangkitkan
kepercayaan bahwa lingkungan dan pendidikan dapat membentuk manusia kea rah
mana saja yang dikehendaki pendidik.
Aliran ini
termasuk aliran Progresivisme yang bersifat evolusionistis dan porcaya pada
kemampuan-kemampuan manusia untuk mengadakan perubahan.
2.
Nativisme dan
Naturalisme
a.
Nativisme
Aliran ini
adalah penganut dari salah satu ajaran filsafat idealisme.Tokohnya Arthur
Shopenhauer (1788-1860) yang perpandangan bahwa faktor pembawaan yang bersifat
kodrat dari kelahiran dan tidak mendapatkan pengarug dari alam sekitar atau
pendidikan sekalipun, dan itulah yang disebut keperibadian manusia.Potensi-potensi
dari faktor pembawaan yang bersifat kodrati sebagai pribadi seseorang,bukan
hasil pendidikan.Tanpa potensi-potensi hereditas yang baik,tidaklah mungkin
seseorang mendapatkan taraf yang dikehendaki,meskipun mendapatkan pendidikan
maksimal.Mendidik menurut aliran nativisme tiada lain sebagai membiarkan anak
tumbuh berdasarkan pembawaanya.Berhasil tidaknya perkembangan anak tergantung
pada tinggi rendahnya dan jenis pembawaann yang dimiliki anak.Apa yang patut di
hargai dari pendidikan tidaklah lebih dari sekedar memoles permukaan peradaban
dan tingkah laku sosial,sedang lapis dari dalam dari keperibadian anak tidak
perlu ditentukan.
Aliran ini juga
disebut sebagai aliran Pesimistis,karena menerima keperibadian sebagaimana
adanya dengan tidak mempercayai adanya nilai-nilai pendidikan untuk merubah
keperibadian.
b.
Naturalism
Tokohnya adalah
Jean Jacques Rousseau (1712-1778) seorang filosof bangsa Prancis,yang
mengemukakan pendapat dalam bukunya yang berjudul “Emile” mengemukakan bahwa “semua
adalah baik pada waktu dating dari tangan Sang Pencipta,tetapi semua menjadi
buruk di tangan manusia”.
Aliran ini
disebut juga aliran negativism,berpandangan bahwa pendidik hanya wajib
membiarkan pertumbuhan anak didik saja dengan sendirinya dan selanjutnya
diserahkan kepada alam.Jadi pendidikan tidak diperlukan dan yang dilaksanakan
adalah menyerahkan anak didik kea lam agar pembawaan yang baik tadi tidak
menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan.
3.
Teori Konvergensi
Teori
dan aliran konvergensi ingin mengkompromikan 2 macam aliran yang ekstrem,yaitu
aliran empirisme dan aliran nativisme.Tokoh aliran ini adalah William Stern
(1871-1938),seorang ahli pendidikan bangsa
Jerman,yang berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan sama
pentingnya,kedua-duanya sangat berpengaruh terhadap hasil perkembangan anak
didik.Hasil perkembangan dan pendidikan anak tergantung peda besar kecilnya
pembawaan serta situasi lingkunganya.
Jadi
jika tiap-tiap pendidik telah memahami asas-asas dan nilai filosofi serta
menggunakannya dalam pendidikan,maka filsafat pendidikan menjadi norma
pendidikan atau sebagai asas normative di dalam pendidikan.
Peranan
dan fungsi filsafat pendidikan bagi para pendidik yang dikemukakan secara
singkat oleh Brubacher tersimpul dalam :
1.
Fungsi Spekulasi
Untuk
melaksanakan fungsi spekulasi maka filsaft pendidikan berusaha :
a.
Menarik
kesimpulan atau merangkum dari berbagai persoalan pendidikan kedalam suatu
gambaran pokok aksioma melalui proses abstrak dan generalisasi atau menurut
Brubacher bahwa dalam fungsi ini “educational philosophy makes an endeavor to
be sinoptik “
b.
Memahami
persoalan pendidikan secara keseluruhan dan dalam hubungannya dengan
faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan.
2.
Fungsi Normative
Menurut
Brubacher,dalam fungsi ini filsafat pendidikan adalah “diharapkan mempunyai
tanggung jawab terhadap formulasi tujuan,norma atau standar untuk mengarahkan
proses pendidikan.
3.
Fungsi Kritik
Filsafat
pendidikan melakukan penelitian secara cermat yang didasarkan atas
pemikiran-pemikiran dan praktek-pratek pendidikan,dalam hal :
a.
Menguji
dasar-dasar pemikiran logis dimana kesimpulan-kesimpulan pendidikan berada
didalamnya
b.
Menguji dengan
teliti bahwa bahasa yang digunakan benar-benar harus terang dan jelas
c.
Memerlukan
bukti-bukti yang bermacam-macam yang diterima untk menguatkan atau menyangkal
ungkapam-unakpan fakta tentang pendidikan.
4.
Fungsi Teori
bagi Praktek
Apa
yang terdapat dalam filsafat pendidikan berupa konsep,ide,analisa dan
kesimpulan-kesimpulan adalah berfungsi sebagai teori.dan bagi para pendidik
merupakan dasar bagi suatu praktek dan pelaksanaan pendidikan.Dan filsafat
memberikan prinsip-prinsip umum suatu praktek sehingga Nampak bahwa filsafat
dan ilmu pendidikan dipandang sebagai bidang-bidang ilmu yang saling melengkapi
dan keduanya selalu diperlukan oleh para pelaksana pendidikan.
Karena bahwasannya
setip ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan filsafat pendidikan haris
diambil dan digunakan untuk bahan memperdalam dan memperluas wawasan dalam studi
filsafat pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Filsafat
pendidikan sebagai ilmu pada mulanya adalah cara pendekatan terhadap masalah
pendidikan.Paedagogik atau ilmu pendidikan sebagai ilmu pokok dalam lapangan
pendidikan yang melahirkan filsafat pendidikan,maka agar memenuhi persyaratan
landasan konsep dan fungsingnya juga harus sesuai dengan jiwa dan
isinya,haruslah pula berlandaskan filsafat dan berdasarkan pendidikan,artinya
pendidikan dengan segala problematika yang bersifat filosofis memerlukan
jawaban secara filosofis pula.
B.
SARAN
Kajian filsafat
pendidikan yang penulis jelaskan di atas sesungguhnya masih sangat jauh dari
kesempurnaan, mengingat peran filsafat dalam dunia pendidikan sangat luas.
Dengan keterbatasan kemampuan penulis, penulis mengharapkan bagi pembaca yang
ingin mengkaji lebih dalam mengenai filsafat pendidikan agar bisa menambah
referensi lebih banyak untuk kesempurnaan kajian dan semoga tulisan sederhana
ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembacanya.
SEMOGA BERMANFAAT !!!